Berani Gagal dan Berani Salah


Berani Gagal dan Berani Salah

 

Pernah nggak, suatu saat kita bertemu dengan orang yang berkata dengan bangganya,

“Alhamdulillah saya jarang melakukan kesalahan.”

Lalu ketika orang dengan antusias bertanya,

“Wah, hebat bagaimana Anda bisa melakukannya?”

Ia menjawab dengan santai,

“Karena saya juga jarang melakukan sesuatu.” Ih, nyebelin kan?

 

Padahal yang namanya mencoba dan salah adalah ajang untuk menguji seberapa banyak kita menggunakan akal dan potensi kita dalam berkreasi mengatasi dan memenangkan kehidupan untuk menuju khusnul khotimah (akhir yang baik). Coba deh, kita renungi kembali betapa kita lebih sering merasa nyaman atas ketidak-salahan kita, padahal kesalahan adalah aset sebab ia merupakan umpan balik tentang bagaimana kita melakukan sesuatu. Berarti jika kita tidak melakukan kesalahan, jangan-jangan kita memang tidak pernah melakukan sesuatu. Para pemenang melakukan banyak kesalahan dari pada para pecundang. Itu sebabnya mereka sukses, sebab mereka terus belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaiki kesalahan itu.

 

Thomas Alfa Edison adalah legenda. Ketika ada seseorang yang lbertanya bagaimana perasaannya ketika ia berkali-kali gagal saat membuat bola lampu. Edison menjawab bahwa ia sama sekali tidak gagal, melainkan berhasil menemukan beribu-ribu cara untuk membuat bola lampu. Dengan penyikapan yang sehat terhadap kegagalan seperti itu, maka Edison berhasil memberi sumbangan kepada dunia, sumbangan yang tetap terpatri selamanya pada sejarah.

Werner von Braun adalah contoh yang lain. Selama Perang Dunia II ia menciptakan roket yang oleh Jerman diharapkan bisa meluluhlantakkan London. Selang beberapa lama para atasannya memanggil dan meminta pertanggungjawabannya sebab von Braun telah melakukan 65.121 kesalahan. Atasan itu pun bertanya, “Berapa banyak kesalahan lagi yang kamu butuhkan agar roket itu bisa digunakan?” Ia menjawab bahwa ia kan berhasil setelah 5.000 kali lagi melakukan kesalahan. Untuk membuat roket membutuhkan 65.000-an kesalahan, Rusia sudah melakukannya 30.000-an kali sedang Amerika belum sama sekali. Maka di paro akhir perang itu Jerman telah menghantam musuh-musuhnya dengan rudal balistik buatan van Braun. (Andrew Matthews, dalam Being Happy).

 

Rasulullah berkata dalam haditsnya, Lau laa annakum tudshibuuna lakhalaqallah tabaaraka wa ta’aala khalqan yudzhibuuna fa yaghfirulahum.

 

Artinya : Apabila kamu tidak pernah berbuat salah(dosa), maka Allah tabaaraka wa ta’aala akan menciptakan makhluk lain yang dibuat-Nya berdosa kemudian ia bertaubat dan Allah mengampuni mereka (HR. Muslim).

Bukan berarti mengajak rekan pembaca untuk berbuat dosa lho, tetapi berarti kita tidak perlu takut untuk melakukan sebuah amalan. Sebab toh, jika kita melakukan kesalahan Allah Yang Maha Pemberi Taubat, senantiasa memberikan ruang kita untuk memperbaikinya.

 

Jadi, pilih yang mana? Tanpa kesalahan, tetapi tanpa prestasi, atau sebaliknya, salah sesekali tetapi berprestasi?

Jangan konyol pilih yang nggak ada salah tapi berprestasi..(disini nggak ada pilihannya). J

“Ingat!” semua orang pasti bakalan melakukan kesalahan walupun sekecil kuman yang tidak tampak di mata tapi mungkin bisa tampak dihati seseorang.

 

=>]]Bereaksi dari sekarang tuk perubahan besar di masa depan[[

::Life Excellent Bangkitkan emosi positif-mu::

2 thoughts on “Berani Gagal dan Berani Salah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s