Reny Feby :: Belajar Bisnis Yuk ^_^


Bisnis perhiasan adalah bisnis kepercayaan di antara menjual keindahan dan kepuasan. Makanya ibu 3 anak ini bisa menghabiskan waktu 2 jam hanya untuk melayani satu pembeli. Yang bikin lama sih bukan proses transaksinya, tapi: ngedengerin customernya curhat!

Ibu yang berjilbab gaul ini udah nggak asing dengan dunia bisnis. maklum aje, sang ayah merupakan pengusaha garmen. Dari kecil, ia sudah belajar dagang dan dididik jadi pengusaha.

Sejak SD Reny harus jualan celana panjang di sekolah dan lingkungan sekitar, yang hasilnya ia pakai sebagai uang saku. Ketika kuliah, ia mencari uang saku dengan jualan garmen sisa ekspor. Pelajaran itu membuatnya menghargai uang dan paham arti kerja keras.

Semua kakaknya adalah pengusaha, “Buat kami, time is money. Nggak ada waktu nonton sinetron, tak ada berdiam diri, bermuram durja. You can do anything,” papar wanita yang berusia 34 tahun pada Februari 2007 ini.

Nggak heran begitu lulus kuliah, ia nggak tertarik sama sekali kerja kantoran. Meskipun dunia bisnis ia lalui penuh tantangan, pernah bisnis burger waralaba dari AS. Awalnya mulus sampai ia punya 10 gerobak. Semua bahan bakunya impor berharga dolar. krisis ekonomi tahun 1998 membuat ia bangkrut!

Sejuknya udara dingin AC di gedung perkantoran tetap nggak menggoda imannya, ia akhirnya menerima tantangan menjualkan perhiasan berlian hasil disain salah satu kakaknya.

Reny menjual secara door to door atau memanfaatkan memen kumpul-kumpul seperti arisan dan sejenisnya, yang membuatnya mendapatkan pelajaran baru: krisis moneter nggak berdampak  pada orang-orang berduit. Masih banyak ibu-ibu kaya tetap membelanjakan uangnya untuk perhiasan yang disukai mereka.

“Dalam sebulan, saya bisa menjual 600 cincin dengan harga 3-18 juta per item!” katanya. Selisih harga yang menjadi haknya amat menggiurkan.

Kemudian dia memutuskan membuat perhiasa sendiri. Apalagi ia sudah paham selera pasar. Menurut Reny, berbisnis perhiasan harus paham market, sebab ini barang mahal, emas, diamond.

Ia mencari inspirasi dari mana saja, buku, majalah, internet dan memakai brand RF Jewelry.

Di-complain pelanggan sih biasa, apalagi di awal-awal bisnisnya. Dibilang jelek, kualitasnya nggak bagus. Tapi Reny maju terus, nanti juga ketemu selanya.

Sarjana hukum ini mengaku nggak keluar modal sama sekali, keuntungan dari menjual perhiasan kakaknya yang dipakai sebagai modal.

“Awalnya saya bikin 1 perhiasan, saya jual, untung, bikin lagi jadi dua, saya jual lagi, untung, saya bikin 3 perhiasan, jual…gitu seterusnya. Saya tidak invest besar karena terlalu berisiko,” ia membeberkan kiatnya mengelola risiko.

Ia kini punya beberapa rumah mewah dari hasil bisnisnya itu. Suaminya yang tadinya kerja di Citybank, membantunya menangani manajemen perusahaan.

Reny punya obsesi menjadi desainer tuan rumah negeri sendiri. Ia ingin perhiasan indonesia dihargai karena nilai seninya tinggi. Lima tahun terakhir ini ia memakai brand nama lengkapnya Reny Feby Jewelry. Dibantu 150 tukang dan 20 karyawan, ia mendesain 200 perhiasan tiap bulannya.

Kiat suksesnya: harus mau kerja keras, jujur, konsekuen, konsisten, sabar dan tak mudah putus asa, mau belajar terus, mengontrol kualitas produk, meeting dan evaluasi dengan stafnya tiap bulan untuk memotivasi mereka.

(Sumber: Tabloid Wanita Indonesia, No. 893/15-21 Januari 2007)

dalam buku “TIME SHOW TO OFF” Laura Khalida. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s