Untukmu Kader Dakwah


 Session 1

BERNIATLAH DENGAN BENAR

TUJUAN :

1.      Memahami makna niat baik secara bahasa maupun istilah

2.      Memahami pentingnya niat dalam beramal

3.      Mengetahui cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas

PENDAHULUAN

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata:

”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits).

Ketika menyusun kitab Shahih-nya, Imam Bukhari memulai dengan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya amal ibadah itu tergantung pada niat”. Imam Bukhari menempatkan hadits tersebut dalam urutan pertama di antara hadits-hadits yang lain, seolah ingin mengingatkan bahwa apa yang terkandung dalam hadits tersebut sangat penting dan memang layak untuk ditempatkan dalam urutan pertama. Hadits tersebut berhubungan dengan niat, dan niat – sebagaimana disebutkan oleh Imam Syafi’i – adalah IBADAH HATI sebagai bagian ibadah secara keseluruhan.

PEMBAHASAN

Setiap Amal Tergantung Niatnya

Diterima atau tidaknya dan sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niatnya. Demikian juga setiap orang berhak mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya dalam beramal. Dan yang dimaksud dengan amal disini adalah semua yang berasal dari seorang hamba baik berupa perkataan, perbuatan maupun keyakinan hati.

Secara Fiqh, niat diartikan ketetapan hati untuk melakukan sesuatu dan dilakukan bersamaan dengan perbuatan tersebut. Berbeda dengan ‘azam, yaitu keinginan melakukan sesuatu di waktu yang akan datang. Sebagai rukun, niat menjadi salah satu faktor sah atau tidaknya suatu amal ibadah. Tanpa niat, ibadah yang kita lakukan tidak bisa memenuhi ukuran sah. Kedudukan niat sebagai rukun pertama, menjadikannya titik awal sebagai kunci yang menjadi pembuka pintu ibadah. Tanpa diawali dengan niat, tentu kita tidak akan bisa masuk ke dalam ibadah tersebut. Meskipun secara lahiriah bisa saja kita beribadah tanpa niat, namun ibadah tersebut tidak akan mendapatkan legitimasi hukum syara’,  hanya akan menjadi gerakan tanpa makna.

Niat itu sendiri melmiliki dua fungsi, yakni jika niat berkaitan dengan sasaran suatu amal, maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara amal ibadah dengan amal kebiasaan. Sebagai contoh mandi, niatlah yang akan membedakan antara mandi sebagai kebiasaan sehari-hari dengan mandi untuk bersuci dari hadats. Yang kedua jika niat berkaitan dengan amal itu sendiri (ibadah), maka niat tersebut berfungsi untuk membedakan antara satu amal ibadah dengan amal ibadah yang lainnya. Kita tahu bahwa amal ibadah itu sangat beragam macam dan jenisnya. Shalat misalnya, ada shalat fardlu (wajib) dan juga shalat sunnah. Shalat fardlu juga bermacam-macam, ada yang fardlu ‘ain seperti shalat lima waktu, dan juga ada yang fardlu kifayah seperti shalat jenazah. Demikian juga shalat sunnah dan ibadah yang lain, sangat beraneka ragam. Dengan begitu banyaknya macam dan jenis ibadah, di situlah peranan niat menjadi sangat penting dan signifikan. Niat akan membedakan tingkatan satu ibadah dengan ibadah lainnya, antara yang fardlu dengan yang sunnah. Niat jugalah yang akan membedakan jenis-jenis ibadah, antara satu fardlu dengan fardlu yang lain, sunnah yang satu dengan sunnah yang lain.

Niat juga bisa mengubah perbuatan yang pada lahirnya bersifat kebiasaan menjadi perbuatan yang bernilai ibadah. Makan, jika didasari dengan niat agar badan bisa kuat dalam beribadah, tentu makan pun bisa bernilai ibadah. Sebaliknya, ibadah tanpa didasari niat yang benar bisa berubah menjadi perbuatan biasa tanpa nilai ibadah di dalamnya. Riya’ dan mengharapkan pujian orang lain dalam bershadaqah hanya akan menghilangkan nilai ibadah dan menghapuskan pahala shadaqah itu sendiri.

Menurut Imam Ghazali, niat adalah kemauan hati yang berhubungan dengan perbuatan. Kemauan tersebut tidak muncul begitu saja, namun erat hubungannya dengan sebab dan tujuan yang mendasari lahirnya suatu perbuatan. Orang yang bekerja misalnya, ia bekerja karena ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, dan ia tahu bahwa bekerja adalah salah satu jalan agar kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi. Sebab dan tujuan tersebut menumbuhkan kemauan dalam hatinya yang akhirnya diwujudkan dalam perbuatan nyata yaitu bekerja. Dalam pelaksanaan ibadah, niat merupakan proses persiapan diri dalam menyatukan hati, pikiran dan badan. Hal ini akan membantu kita untuk melakukan ibadah secara total, baik lahir maupun batin.

Niat adalah ibadah hati yang menghubungkan manusia sebagai hamba dengan Allah sebagai Sang Pencipta. Niat melambangkan pengakuan batin terhadap kekuasaan Allah yang akan membuat ibadah menjadi semata-mata hanya untuk Allah. Hakikat niat bukan hanya sekadar ucapan “nawaitu” (aku berniat), tetapi merupakan bentuk ketundukan hati sebagai pengejawantahan rasa iman. Ketika kita shalat, tidak hanya sekadar “ushalli” (aku niat shalat), namun niat merupakan pengejawantahan rasa iman bahwa shalat adalah kewajiban seorang muslim kepada Allah. Niat tersebut didasari bahwa shalat adalah jalan ber-munajah untuk mengharapkan ridlo dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Keberadaan niat tidak hanya sebatas di awal ibadah, tetapi hadir sepanjang pelaksanaan ibadah.

Niat adalah proses pendalaman terhadap makna di balik gerakan lahiriyah ibadah mulai dari awal sampai akhir. Proses pendalaman makna ibadah itulah yang menjadikan niat disebut sebagai ruh amal. Artinya, ibadah tidak hanya dilakukan secara lahiriyah saja, namun hati juga ikut menjiwai makna dan hakekat ibadah tersebut. Ketika proses penjiwaan tersebut menjadi inti dari ibadah yang dilakukan, maka disitulah “niat seorang mukmin lebih baik dari amalnya”.

Dalam hubungannya dengan ibadah, niat tidak dapat terlepas dari sifat ikhlas. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi kunci diterima atau tidaknya amal ibadah oleh Allah. Keikhlasan niat seseorang timbul dari kebersihan hati yang akan membawanya semakin dekat kepada Allah. Inilah yang disebut oleh Imam Ghazali bahwa niat adalah futuh (terbukanya hati).

Ketika hati kita sudah terlatih untuk berbuat dengan niat yang ikhlas, dari situlah ibadah yang kita lakukan tidak hanya gerakan lahiriyah belaka melainkan bentuk kepasrahan total seluruh jiwa dan raga di hadapan Allah. Dari situlah ibadah menjadi terasa nikmat dan indah. Dan pada akhirnya, kenikmatan beribadah tersebut akan menjalar dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kehidupan yang kita jalani insya Allah akan terasa lebih bermakna.

Satu kisah tentang bagaimana seseorang melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, lillahi ta’ala :

Karena telah bertugas setahun sebagai Gubernur Homs, Suriah, suatu hari Umair bin Sa’id dipanggil Umar bin Al Khaththab untuk menghadap ke Madinah. Sang Khalifah ingin mendengar sendiri dari Umair perihal perkembangan daerah Homs. Tetapi, betapa terkejutnya sang khalifah, karena ternyata sang gubernur datang menghadap dengan berjalan kaki dari Homs. Dia hanya ditemani sebuah tongkat, tas, dan sebuah kantong air. Melihat hal yang demikian itum sang khalifah bertanya kepada bawahannya itu, “Apa yang terjadi? Apakah engkau dapatng dari negeri yang dilanda kemarau panjang? Atau dari negeri yang telah ditimpa bencana?”

“Amirul Mukminin!” jawab sang gubernur seraya meletakkan tasnya, “Engkau ini bagaimana, bukankah saya telah datang dengan membawa dunia yang saya masih tertarik dengannya?”

“Apa yang engkau bawa dari dunia ini?” Tanya sang khilafah penuh rasa ingin tahu.

“Sebuah tongkat untuk membantuku berjalan dan mengalau musuh sekiranya mereka mengkalangi perjalananku. Sebuah tas yang berisi perbekalan makananku. Dan, sebuah kantong air untuk minum dan berwudhu. Demi Allah, selain ketiga barang ini, apa yang saya cari dari dunia, wahai Amirul Mukminin?”

Saat itu juga Umar bin Khaththab bengkit dan meninggalkan majelis menuju pusara Rasulullah dan Abu Bakar Al-Shiddiq. Dia sangat terharu mendengar jawaban Umair bin Said. Sambil menahan lelehan air mata, dia memanjatkan doa. Tak lama, dia kembali lagi ke majelis dan menanyakan segala sesuatunya kepada sang gubernur.

Selepas rampung tugasnya, Umair segera kembali ke Homs. Umar bin Khaththab mengutus Habib bin Abu Balta’ah, sahabat yang terkenal sebagai pemanah yang jitu, untuk mengetahui bagaimana keadaan Umair sebenarnya, sambil memberikan uang 100 dinar. Umar berpesan, “ tinggallah engkau bersama Umair selama tiga hari. Jika dia memang hidup dalam keadaan serba kekurangan, serahkanlah uang ini kepadanya!”

Selepas Habib tiba di Homs, selama tiga hari dia mengamati kehidupan Umair. Karenya sangat papanya kehidupan Umair, tanpa ragu lagi Habib memberikan uang itu kepada gubernur. Dan, kali ini, Habib yang dibuat terkejut, kerena saat itu juga Umair membagi-bagikan semua uang pemberian sang khalifah kepada fakir miskin.

Ketika Habib bin Abu Balta’ah kembali ke Madinah dan ditanya oleh sang khilafah mengenai keadaan Umair, dengan terharu dia berucap, “Berbahagialah engkau, wahai Amirul Mukminin, karena engkau memiliki anak buah yang tak mudah tergoda oleh pesona duniawi!”

KESIMPULAN

Begitu pentingnya niat sebelum perbuatan kita, maka sebisa mungkin kita harus berusaha untuk menumbuhkan niat yang ikhlas hanya kepada Allah SWT. Sekali lagi hanya kepada Allah SWT, karena tanpa disadari kita seringkali membelokkan arti ikhlas karena Allah SWT hanya karena urusan lainnya. Berikut ini cara untuk untuk menumbuhkan niat yang ikhlas :

1.      Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal

2.      Menambah pengetahuan tentang Allah SWT dan hari kiamat. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya, maka seseorang mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di akhirat.

3.      Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan al-Qur’an, karena al-Quran adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah.

4.      Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain.

5.      Menghindari / mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong.

6.      Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW : “Allahumma innii a’udzubika annusyrikabika syaian a’lamuhu wa astaghfiruka lima laa a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)

Maroji’ :

1.      Syaikh Mustafa Mansyur. 2000. Fiqh Dakwah. Jakarta : Al I’tishom

2.      Jasiman LC. 2009. Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah. Surakarta : Auliya Press

3.      Yuceu Ekajaya. 2004. Di Bawah Naungan Cahaya Ilahi. Surakarta : Nurul Huda Press

4.      Seri keempat buku Mentoring Islam Elektronik.    http://itc.esmartstudent.com/buku_mentoring_islam_elektronik_4.pdf

MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT

TUJUAN :

1.      Memahami urgensi arti dua kalimat syahadat

2.      Memahami pengaruh syahadat bagi kehidupan seorang mukmin

3.      Memahami makna dan kandungan syahadatain secara benar

4.      Mampu menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam syahadatain dalam kehidupan sehari-hari

PENDAHULUAN

Kalimah syahadatain adalah kalimat yang tidak asing lagi bagi umat Islam.Kita senantiasa menyebutnya setiap hari, misalnya ketika shalat dan azan.Kalimah syahadatain sering diucapkan oleh ummat Islam dalam pelbagai keadaan.Sudah selayaknya kita menghafal kalimat tersebut dan dapat menyebutnya dengan fasih, namun sejauh manakah kalimat syahadatain ini difahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari ummat Islam ?

Tingkah laku ummat Islam yang terpengaruh dengan jahiliyah atau cara hidup barat yang memberi gambaran bahwa syahadat tidak memberi kesan lainnya seperti tidak menutup aurat, melakukan perkara-perkara larangan dan yang meninggalkan perintah-Nya, memberi kesetiaan dan taat bukan kepada Islam, dan mengingkari rezki atau tidak menerima sesuatu yang dikenakan kepada dirinya.  Contoh ini adalah wujud dari seseorang yang tidak memahami syahadat yang dibacanya dan tidak mengerti makna yang sebenarnya dibawa oleh syahadat tersebut.

Kalimah syahadat merupakan asas utama dan landasan penting bagi rukun Islam.  Tanpa syahadat maka rukun Islam lainnya akan runtuh begitupun dengan rukun Iman.  Tegaknya syahadat dalam kehidupan seorang individu maka akan menegakkan ibadah dan dien dalam hidup kita.  Dengan syahadat maka wujud sikap ruhaniah yang akan memberikan motivasi kepada tingkah laku jasmaniah dan akal fikiran serta memotivasi kita untuk melaksanakan rukun Islam lainnya.

Di kalangan masyarakat Arab di zaman Nabi SAW, mereka memahami betul makna dari syahadatain ini, terbukti dalam suatu peristiwa dimana Nabi SAW mengumpulkan ketua-ketua Quraisy dari kalangan Bani Hasyim, Nabi SAW bersabda :  Wahai saudara-saudara, mahukah kalian aku beri satu kalimat, dimana dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab.  Kemudian Abu Jahal terus menjawab :  Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat berikan kepadaku.  Kemudian Nabi SAW bersabda :  Ucapkanlah Laa ilaha illa Allah dan Muhammadan Rasulullah.  Abu Jahal pun terus menjawab :  Kalau itu yang engkau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.

Penolakan Abu Jahal kepada kalimat ini, bukan karena dia tidak faham akan makna dari kalimat itu, tetapi justru sebaliknya. Dia tidak mau menerima sikap yang mesti tunduk, taat dan patuh kepada Allah SWT saja, dengan sikap ini maka semua orang akan tidak tunduk lagi kepadanya. Abu Jahal ingin mendapatkan loyalitas dari kaum dan bangsanya.Penerimaan syahadat bermakna menerima semua aturan dan segala akibatnya.Penerimaan inilah yang sulit bagi kaum jahiliyah mengaplikasikan syahadah.

Sebenarnya apabila mereka memahami bahwa loyalitas kepada Allah itu juga akan menambah kekuatan kepada diri kita. Mereka yang beriman semakin dihormati dan semakin dihargai. Mereka yang memiliki kemampuan dan ilmu akan mendapatkan kedudukan yang sama apabila ia sebagai muslim. Abu Jahal adalah tokoh di kalangan Jahiliyah dan ia memiliki banyak potensi diantaranya ialah ahli hukum (Abu Amr). Setiap individu yang bersyahadat, maka ia menjadi khalifatullah fil ardhi.

PEMBAHASAN

Syahadatain adalah rukun Islam yang pertama. Kepentingan syahadat ini karena syahadat sebagai dasar bagi rukun Islam yang lain dan bagi tiang untuk rukun Iman dan Dien.  Syahadatain ini menjadi ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam.  Oleh sebab itu, sangat penting syahadat dalam kehidupan setiap muslim.  Sebab-sebab kenapa syahadat penting bagi kehidupan muslim adalah :

1. Madkhol Ila Al-Islam(Pintu masuk ke dalam Islam)

Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain. Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain. Syahadatain membedakan antara orang muslim dengan kafir.

“Rasulullah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, “Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu hati-hatilah kamu terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antara dia dan Allah tidak ada dinding pembatas.” (H.R. Bukhari Muslim).

Pentingnya mengerti, memahami dan melaksanakan syahadatain karena manusia berdosa akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain.

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tingal.” Q.S. Muhammad (47) ayat  19.

Ketidakkonsistenan sikap seseorang dengan pernyataan tauhidnya (Laa Ilaaha Illallah) adalah perbuatan dosa, karena pernyataan tersebut pada hakikatnya adalah pernyataan ikrar kecintaan, ketaatan dan rasa takut hanya kepada Allah semata. Maka bila seorang muslim tidak menunaikan shalat, tidak menutup aurat, terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan jenis, hal itu merupakan sikap tidak konsisiten dengan pernyataan Laa Ilaaha Illallah. Karena dengan sikap seperti itu, cinta, taat, dan rasa takutnya tidak diarahkan kepada Allah, tetapi kepada hawa nafsunya sendiri.

Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa Ilaha Illallah dan tidak mau mengesakan Allah.

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha Illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.” Q.S. As Shaffat (37) ayat 35

 Yang dimaksud menyombongkan diri ketika diperdengarkan kalimat ”Laa Ilaaha Illallah” tidak semata-mata karena tidak mau mengucapkan atau mendengarkannya, tetapi yang yang dimaksud adalah substansinya, yaitu hanya taat, takut dan cinta kepada Allah. Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan tunduk kepada perintah Allah, seperti perintah shalat, menutup aurat, menjauhi pergaulan bebas, berkhalwat dengan yang bukan mahramnya dan sebagainya.

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan, para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Q.S. Ali Imran (3) ayat 18.

Manusia bersyahadat di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah.Ini perlu disempurnakan dengan syahadatain sesuai ajaran Islam.Sesuai dengan yang tertulis dalam Q.S. Al A’raf ayat 172.

2. Khulashah Ta’alim Islam  (Inti Sari Ajaran Islam)

Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahamannya terhadap syahadatain. Sebab seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang sederhana ini.

Ada 3 hal prinsip syahadatain :

1.      Pernyataan Laa Ilaha Illallah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada Allah saja. Melaksanakan minhajillah merupakan ibadah kepada-Nya.

2.      Menyebut Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu dari Muhammad saw. Dan Rasulullah adalah teladan dalam mengikuti Manhaj Allah.

3.      Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakatnya.

Makna Laa Ilaha Illallah adalah penghambaan kepada Allah serta Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid seperti di dalam QS. Al Anbiya :25. Sedangkan manusia yang menyembah Allah SWT akan timbul ketaqwaan dalam dirirnya (Q.S. Al Baqarah : 21)

Seluruh aktivitas hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara harus ditujukan untuk mengabdi Allah swt saja karena Islam adalah satu-satunya syari’at yang diridhai Allah.Tidak dapat dicampur dengan syari’at lainnya.Seperti dalam QS. Ali Imran : 19.

3. Asasul Inqilab (Dasar-Dasar Perubahan)

Syahadatain mampu mengubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya.Perubahan meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, secara individu ataupun masyarakat.Ada perbedaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan pemahaman terhadap makna syahadatain secara bahasa dan pengertian, sikap konsisten terhadap syahadat tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima maupun menolak.

Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi taqwa dan abid, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.

Syahadatain dapat mengubah masyarakat dahulu, maka syahadatain pun dapat mengubah umat sekarang agar menjadi baik.Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi yang dahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya Islam yang gemilang.

Perubahan individu contohnya terjadi pada Mus’ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah Rasul merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour di kota Makkah tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang da’i, duta Rasul untuk kota Madinah. Kemudian menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya Rasulullah membacakan ayat dalam QS Al Ahzab : 23.

Reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimat tauhid. 85:6-10, reaksi musuh terhadap keimanan kaum mukminin terhadap Allah 18:2, 8:30, musuh memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid.Seperti yang dikisahkan dalam Q.S. Al Buruj ayat 6-10.

4. Hakekat Dakwah Para Rasul

Setiap Rasul semenjak Nabi Adam as. hingga Nabi besar Muhammad saw membawa misi dakwahnya adalah syahadat. Apa yang diwahyukan kepada Rasulullah sama dengan apa yang diwahyukan kepada Nabi-Nabi sebelumnya. Mereka semua mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah semata dan hanya menyembah kepada-Nya.Seperti yang diserukan Nuh as kepada kaumnya dalam Q.S. Al A’raf ayat 59.

Nabi Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawanya kepada pengabdian Allah saja serta membebasakan diri dari kemusyrikan.Para Nabi membawa dakwah bahwa Ilah yang satu yaitu Allah saja.

“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”.Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(Q.S. Al Kahfi :110).

5. Fadailul A’dhim (Ganjaran Yang Besar)

Banyak ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw. Di antaranya seseorang akan dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari neraka seperti sabda Rasulullah saw:

Ubadah bin Shamit meriwayatkan dari Nabi saw beliau bersabda, “Barang siapa mengatakan tiada Ilah selain Allah tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah haq serta neraka itu haq. Allah akan memasukkannya ke surga, apapun amal perbuatannya.” ( H.R. Bukhari)

Orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah di hari kiamat, seperti sabda beliau,

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw ditanya, “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari Kiamat?” Rasulullah saw bersabda, “Aku telah mengira ya Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorangpun yang tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah yang mengatakan La Ilaha Illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (H.R. Bukhari).

KESIMPULAN

Pemaknaan dua kalimah syahadat yang selama ini dilakukan oleh masyarakat belum sepenuhnya benar, kebanyakan hanya mengamalkan syahadatain lewat ucapan saja. Tugas kita setelah kita mengetahui dan memahami apa itu makna syahadatain adalah menyebarkannya pada lingkungan kita dengan cara memberikan contoh kepada masyarakat.

Mengingat begitu besar makna syahadatain sementara begitu banyak yang belum memahaminya.Maka sudah seharusnya kita bekerja keras untuk meningkatkan kapasitas diri kita, memperbanyak bacaan islami, meningkatkan kualitas ibadah dan hafalan kita serta mempererat silaturahim. Sehingga lambat laun lingkungan kita akan dapat menerima kita sebagai panutan untuk mereka.

Maroji’ :

1.   Aqidah seorang muslim, KSI- Al Ummah, 1993, Jakarta.

2.   Ar-Rosul – Muhammad Saw, Said Hawwa, Terj. Pustaka Mantiq, 1992, Solo

3.   Mengenal Muhammad, A. Hasan, 1977, Surabaya

4.   Mentoring Pembinaan UI. Buku Panduan Mentoring Untuk Pemula

 

copas dari http://niametaphora.blogspot.com/2011/12/untukmu-kader-dakwah-materi-mentoring.html

create By :

Kamis, 08 Desember 2011

Untukmu Kader Dakwah : Materi mentoring Mahasiswa

Created by : Indra Kusuma Aryanto dkk

 

Jama’ah Nurruzzaman UKMKI UNAIR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s